2 November 2011
24 Oktober 2011
PEMIMPIN BUKANLAH PENGUASA
Ada tiga hal yang berperan sangat penting dalam menentukan arah dan corak peradaban suatu bangsa, yaitu pemimpin, buku dan lembaga pendidikan. Kepemimpinan yang kuat tidak boleh terlepas dari aqidah karena aqidah adalah kekuatan, juga tidak boleh keluar dari syariat, karena syariat adalah kebenaran. Maka kepemimpinan yang kuat dan benar adalah kepemimpinan yang didasarkan pada aqidah dan syariah, itulah kepemimpinan yang bernilai sebagai ibadah.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan seorang pemimpin, baik di level bawah (keluarga) atau level atas ( Negara ). Pemimpin mempunyai kedudukan yang sangat penting karenanya siapa saja yang mejadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kedudukanya sebagai pemimpin.
Ketika seseorang di angkat atau di tunjuk untuk memimpin, maka ia mengemban amanah yang besar dan harus mampu mempertanggung jawabkan tidak hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level bukanlah sesuatu yang istimewa sehingga ia merasa harus di istemawakan dan akan marah bila orang lain tidak mengistimewakanya.
Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan. Tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukan pengorbanan apalagi ketika masyarakat yang dipimpin berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Karena itu terasa aneh bila pejabat untuk sekedar membeli seragam meghabiskan anggaran milyaran rupiah. Padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.
Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya.oleh karena itu pemimpin hendaknya memiliki wawasan yang luas serta visi dan misi untuk pelayanan orang-orang yang dipimpinnya, guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada sedikitpun untuk membohongi rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golonganya. Bila ada pemimpin seperti ini adalah pengkhianatan yang paling besar.
Misi dan Visi seorang pemimpin harus benar-benar jelas dan mempunyai kesungguhan hati untuk menjalankan Visi dan Misi tersebut. Visi dan Misi Pemimpin minimal mencakup Hal-hal sebagai berikut; VISI ( aqidah, tauhid ) kemudian di tindaklanjuti dengan MISI hidup (beribadah dan berkhilafah) visi dan misi seorang pemimpin yang sedemikian akan menghasilkan NILAI DIRI. Nilai diri kemudian akan menjadi daya tarik bagi KOMUNITAS public (masa) untuk datang berkerumun di sekelilingnya ( komunitas yang loyal karena cinta). Pada tahapan selanjutnya, komunitas secara otomatis akan menghasilkan FASILITAS. Dan akhirnya fasilitas harus dijadikan asset yang bernilai produktif baik secara individu dan social. Serta mampu mensyukuri dari hasil yang didapat. Jika proses ini terus digulirkan bola salju kemaslahatan umat pun akan terbentuk dengan active-income ( selalu datang ) dan terus mengalir.
Misi dan Visi seorang pemimpin harus benar-benar jelas dan mempunyai kesungguhan hati untuk menjalankan Visi dan Misi tersebut. Visi dan Misi Pemimpin minimal mencakup Hal-hal sebagai berikut; VISI ( aqidah, tauhid ) kemudian di tindaklanjuti dengan MISI hidup (beribadah dan berkhilafah) visi dan misi seorang pemimpin yang sedemikian akan menghasilkan NILAI DIRI. Nilai diri kemudian akan menjadi daya tarik bagi KOMUNITAS public (masa) untuk datang berkerumun di sekelilingnya ( komunitas yang loyal karena cinta). Pada tahapan selanjutnya, komunitas secara otomatis akan menghasilkan FASILITAS. Dan akhirnya fasilitas harus dijadikan asset yang bernilai produktif baik secara individu dan social. Serta mampu mensyukuri dari hasil yang didapat. Jika proses ini terus digulirkan bola salju kemaslahatan umat pun akan terbentuk dengan active-income ( selalu datang ) dan terus mengalir.
Ibarat kata,pemimpin adalah sumur sedang pengikutnya adalah timbanya. Sumur didatangi oleh timba bukan timba yang didatangi oleh sumur. Kian dalam suatu sumur, kian banyak dan bagus pula airnya, hingga memungkinkan ‘para’ timba berdatangan dalam jumlah semakin banyak pula. Kian tinggi nilai seorang pemimpin akan kian banyak pula pengikutnya, kian ihklas jiwa seorang pemimpin, akan kian loyal pula orang-orang yang berada disekelilingnya, jika sudah demikian soal rejeki baginya bukanlah persoalan. Rezeki hanyalah akibat dari nilai diri, kebesaran dan keikhlasan jiwanya.
Lantas bagaimana dengan pemimpin-pemimpin di negeri ini? apakah sudah memenuhi kriteria seperti yang telah dituliskan diatas. pastinya dari jawaban yang keluar sangat fariatif. Karena bukan mejadi rahasia umum lagi bahwa untuk menduduki jabatan sebagai seorang pemimpin diperlukan biaya yang sangat banyak. dengan kata lain, jika pada waktu pemilihan menerima amplop tebal bisa dipastikan akan memberi jawaban “pilihanya sudah tepat”. akan tetapi jawaban berbeda juga akan keluar dari mereka yang hanya menerima amplop tipis, atau bagi mereka yang kalah dalam perebutan kursi jabatan.
Kita menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai hanya dengan lembaran ribuan kita salah memilih pemimpin. Baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tangga, ketua RT, Lurah, Camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota Parlemen, Bupati, atau Walikota, Gubernur, Menteri dan Presiden. Karena itu orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinanya untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin
Kita menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai hanya dengan lembaran ribuan kita salah memilih pemimpin. Baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tangga, ketua RT, Lurah, Camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota Parlemen, Bupati, atau Walikota, Gubernur, Menteri dan Presiden. Karena itu orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinanya untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin
23 Oktober 2011
AKAL DAN WAHYU SERTA FUNGSI
I. PENDAHULUAN
Agama Islam adalah menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu adalah Islam agama ilmu dan akal.
Sebelum Islam mengajak pemeluknya mencapai segala keperluan yang berhubungan dengan dunia, lebih dahulu diajak supaya mempergunakan segenap daya upaya bagi membersihkan akal; dalam faham, jitu fikiran dan jauh pandangan. Diketahui laba rugi suatu pekerjaan sebelum masuk kepadanya, ditelungkup ditelentangkan. Berjalan menghadap surut, berkata sepatah difikirkan. Berlayar menghadang pulau, berjalan menghadang batas. Kaki teracung inai obatnya, mulut terlanjur emas dendanya. Sehingga pekerjaan yang dikerjakan membuahkan kebenaran, keadilan ,berfaedah dan timbul dari rasa wajib. Disuruh mereka menyelidiki suatu dari segi mudaratnya sebelum manfa’atnya,didahulukan menolak kerusakan sebelum mengharap maslahat. Disuruh menyelidiki dan menilik alam dengan penuh pengalaman
II. RUMUSAN MASALAH
Begitu juga dalam ajaran agama, ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, yaitu dengan jalan akal dan dengan jalan wahyu. Untuk memahami kadua masalah itu, harus terlebih dahulu diketahui pengertian keduanya. Maka dalam makalah Materi Pendidikan Agama Islam ini penyusun mencoba menjabarkan tentang akal dan wahyu serta fungsinya. Walaupun kami sadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini sehingga kami belum bisa mengcover semuanya untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam bab selanjutnya.
Namun demikian dengan adanya kekurangan yang ada pada pembahasan ini penyusun berharap kepada pembaca untuk dapat memberikan saran maupun kritiknya yang membangun, demi menambah wawasan dan pengetahuan bagi pribadi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
III. PEMBAHASAN
AKAL DAN WAHYU SERTA FUNGSINYA
Dalam pandangan para filosuf Islam. Akal merupakan daya berfikir yang terdapat dalam diri manusia. Pengertianya sama dengan nous yang ada dalam filsafat Yunani. Bahkan, dalam Ayat-ayat Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa akal merupakan daya pikir yang berpusat di kepala; malahan sama dengan kalbu yang berpuat didada. Pengertian akal seperti ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan kaum teolog, sebagaimana yang dikemukakan Mu’tazilah. Ada juga yang menambahkan bahwa akal merupakan daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat manusia mampu membedakan suatu benda dari benda lainnya.
Adapun wahyu, secara etimologis mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Wahyu juga mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan terjadi dengan cepat. Kata wahyu lebih popular dikenal dalam pengertian apa yang di wahyukan Allah kepada Nabi pilihan-Nya untuk disampaikan kepada manusia sebagai pedoman hidup. Dalam Islam wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad terkumpul dalam Al-Qur’an.
Akal, sebagai daya piker yang ada didalam diri manusia,berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan. Sedangklan wahyu sebagai pengkabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban – kewajiban manusia terhadap-Nya. Persoalanya sekarang, sampai sampai dimanakah kemampuan akal manusia dapat mengetahui tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia? Sampai dimanakah fungsi wahyu dalam kedua hal ini?
Persoalan kemampuan akal dan fungsi wahyu ini dihubugkan dengan dua masalah pokok diatas, masing-masing bercabang dua, Pertama: masalah mengetahui; Tuhan, melahirkan dua masalah, yaitu mengetahiu Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan .Kedua; masalah baik dan jahat, melahirkan dua masalah , yaitu mengetahui baik dan jahat dan kewajiban mengetahui baik dan jahat.
Dari empat masalah itu, terjadi polemik di kalangan aliran kalam: Manakah dari keempat masalah tersebut yang diperoleh melalui wahyu?
Menurut Mu’tazillah, sebagaimana dikemukakan para tokohnya, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantara akal, kewajiban–kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian, berterima kasih kepada Tuhan sebelum turun wahyu adalah wajib. Baik dan jahat diketahui oleh akal , demikian pula mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk wajib pula.
Dalam hal ini Abu Al-Hudzail menegaskan bahwa sebelum turun wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan; dan jika tidak berterima kasih kepadan-Nya, ia akan mendapat siksa .Baik dan jahat, menurutnya, juga dapat diketahui akal; pula orang wajib mengerjakan yang baik, misalnya bersifat adil; dan wajib menjauhi yang buruk ,seperti berdusta dan berbuat zalim.
Menurut Al-Syahrastani, kaum Mu’tazilah sependapat bahwa kewajiban mengetahui tuhan dan berterima kasih kepada-Nya, kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk dapat diketahui akal .sebelum mengetahui bahwa sesuatu itu wajib, tentu orang harus terlebih dahulu mengerjakan hakekat hal itu .tegasnya, sebelum mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan dan berkewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk, orang harus terlebih dahulu mengetahui Tuhan dan mengetahui baik dan buruk. Sebelum mengetahui hal itu, orang tentu tidak dapat menentukan sikap terhadapnya.
Mnurut Mu’tazilah ,jika keempat masalah itu dapat diketahui dengan akal, maka apa fungsi wahyu bagi keempat masalah itu? Menurut Abu Hasyim, untuk mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya wahyu tidak mempunyai fungsi apa-apa; untuk mengetahui cara beribadah kepada tuhan wahyu diperlukan.”Akal” lanjutnya, “betul dapat mengetaahui kewajiban berterima kasih kepada tuhan, tetapi wahyulah yang menerangkan kepada manusia cara yang tepat mengabdi kepada Tuhan.”
Mengenai baik dan buruk, Abdul Jabbar mengatakan bahwa akal tidak dapat mengetahui semua yang baik. Akal hanya mengetahui kewajiban-kewajiban dalam garis besarnya saja. Akal tidak sanggup mengetahui perincianya, baik mengenai hidup manusia di akhirat nanti maupun mengenai hidup di dunia. Jadi menurut mu’tazilah, tidak semua yang buruk dapat diketahui akal. Untuk mengetahui hal itu diperlukan wahyu. Singkatnya, wahyu menyempurnakan pengetahuan tentang baik dan buruk.
Selanjutnya, wahyu bagi mu’tazilah, berfungsi memberi penjelasan tentang perincian pahala dan siksa di akhirat. Abd Al-Jabbar mengatakan, akal tidak dapat mengetahui bahwa pahala untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari upah yang ditentukan untuk suatu perbuataan baik yang lain. Demikaian pula akal tidak mengetahui bahwa siksa bagi suatu perbuatan buruk lebih besar dari pada siksa untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua ini hanya dapat diketahui melalui wahyu. Menurut Al-Jubbai, wahyulah yang menjelaskan perincian pahala dan siksa yang akan diperoleh manusia di akhirat. Al-Khayat menambahkan, “ Fungsi wahyu ( dikirim melalui para Rosul ) berfungsi untuk menguji manusia apakah ia patuh kepada tuhanya atau menentang kepada-Nya.
Jadi, menurut mu’tazilah, wahyu berfungsi sebagai konfirmasi dan informasi. Maksudnya wahyu memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui akal. Dengan demikian, wahyu menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh akal.
Menurut Asy’ariah, sebagaimana dikatakan Al-Asy’ari sendiri,segala kewajiban hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak dapat mengatahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjahui yang buruk itu wajib bagi manusia. Menurutnya, memang betul akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan, dan berterima kasihlah kepada-Nya. Dengan wahyu pulalah, dapat diketahui bahwa yang patuh kepada tuhan akan memperoleh pahala dan yang tidak patuh akan mendapat siksa, dengan demikian, akal, menurut Al-Asy’ari, dapat mengetahui Tuhan tetapi tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia dan karena itulah, diperlukan wahyu.
Menurut Al-Asahrastani, (berpaham Asy’ariah) kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan wahyu dan pengetahuan diperoleh dengan akal. Akal tidak dapat menentukan bahwa megferjakan baik dan menjahui keburukan itu wajib, karena akal tidak membuat sesuatu menjadi wajib, tetapi wahyulah yang menentukanya. Ia juga sependapat dengan Al-Asy’ari tetang mengetahui Tuhan dan kewajiban manusia berterima kasih kepada-Nya. Mengenai soal baik dan buruk (jahat) karena yang dimaksud baik adalah perbuatan yang mendatangkan pujian syariat bagi pelakunya. Dan yang dimaksud jahat adalah perbuatan yang membawa celaan syariat bagi pelakunya. Karena pujian dan celaan syariat hanya dapat diketahui melalui wahyu, maka baik dan buruk tidak dapat diketahui akal.karena itu pula, kewajiban berbuat baik dan kewajiban menjahui keburukan dapat diketahui manusia hanya melalui wahyu.
Al- Baghdadi (pemuka Asy’ariah) juga berpendapat sama dengan Al-Asy’ari. Menurutnya, jika sebelum wahyu turun seseorang dapat mengetahui Tuhan dan sifat-sifat-Nya, kemudian percaya kepada-Nya, maka orang seperti itu adalah mukmin; ia tidak berhak mendapat upah dari Tuhan. Jika orang itu dimasukkan ke Surga, itu atas kemurahan Tuhan. Sebaliknya jika sebelum turun wahyu seseorang tidak percaya kepada Tuhan, maka ia kafir dan ateis, tetapi tidak mesti mendapat siksa.sekiranya Tuhan memasukkannya ke neraka untuk selama-selamanya, itu bukan merupakan siksa.
Al-Ghozali juga berpendapat sama seperti tokoh-tokoh Asy’ariah lainya, bahwa akal tidak dapat membawa kewajiban–kewajiban bagi manusia. Kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan menjahui yang buruk dapat diketahui melalui wahyu. Paham ini, bagi Al-Ghozali, erat kaitanya dengan definisi baik dan buruk. Menurut Al-Ghozali, kata wajib merupakan sifat bagi perbuatan, dan suatu perbuatan sebenarnya bersifat wajib; jika tidak dilakukan akan menimbulkan kemudaratan bagi manusia. Hal ini hanya dapat diketahui dengan wahyu.
Menurut Abu Uzbah, Al-Muturidi berpendapat bahwa anak yang telah berakal berkewajiban mengetahui Tuhan. kematangan akallah, menurutnya yang menentukan kewajiban-kewajiban mengetahui Tuhan bagi anak, bukan tercapainya usia dewasa oleh anak. ia juga beranggapan bahwa akal manusia dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan,karena Dia pemberi nikmat yang besar. Dalam pandangan Al-Muturidi, selain mampu mengetahui adanya Tuhan, kewajiban mengetahui-Nya dan berterima kasih kepada-Nya, juga mampu mengetahui baik dan buruk.
Menurut Abduh, Maturidiah dan Mu’tazilah sependapat bahwa perintah dan larangan erat kaitanya dengan sifat dasar suatu perbuatan, dengan kata lain, pahala dan siksa bergantung pada sifat yang terdapat dalam perbuatan itu sendiri. Kata Al-Muturidi akal mengetahui sifat baik yang ada dalam perbuatan baik dan sifat buruk yang ada dalam perbuatan buruk.
IV. KESIMPULAN
Akal dalam filsafat Yunani sama dengan nous yang artinya daya berfikir yang terdapat dalam diri manusia. Ada juga yang menambahkan bahwa akal merupakan daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat manusia mampu membedakan suatu benda dari benda lainnya. Adapun wahyu, secara etimologis mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Wahyu juga mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan terjadi dengan cepat. wahyu lebih popular dikenal dalam pengertian apa yang di wahyukan Allah kepada Nabi pilihan-Nya untuk disampaikan kepada manusia sebagai pedoman hidup.
Menurut Mu’tazillah, sebagaimana dikemukakan para tokohnya, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantara akal, kewajiban–kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam.
Abu Al-Hudzail menegaskan bahwa sebelum turun wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan; dan jika tidak berterima kasih kepadan-Nya, ia akan mendapat siksa .Baik dan jahat, Abdul Jabbar mengatakan bahwa akal tidak dapat mengetahui semua yang baik. Akal hanya mengetahui kewajiban-kewajiban dalam garis besarnya saja. Akal tidak sanggup mengetahui perincianya, baik mengenai hidup manusia di akhirat nanti maupun mengenai hidup di dunia.
V. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat semoga bisa bermanfaat bagi penyusun secara pribadi serta bermanfaat bagi pembaca pada umumnya. kami sadari bahwa kami masih jauh dari kata kesempurnaan sehingga dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan, sekali lagi kritikan ataupun masukan dari para pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi perbaikan semuanya
DAFTAR PUSTAKA :
1. Drs. Supiana,M.Ag. dan M. Karman. M.Ag Materi Pedidikan Agama Islam
16 Oktober 2011
MANAJEMEN AKSI (DEMONSTRASI)
Oleh ;
anwar sanusi, S.PdI
Disampaikan
dalam acara pengkaderan BEM STAIMUS
I.
PENDAHULUAN
“Mahasiswa adalah aset umat. Ia
bersifat elitis dan eksklusif. Jumlahnya hanya 2 % dari penduduk Indonesia yang
200 juta jiwa. Mahasiswa aktivis lebih elitis lagi, mungkin hanya ada 1
mahasiswa aktivis di antara 10 mahasiswa. Namun, agenda yang mereka perjuangkan
sangat populis, dan realistis. Mahasiswa-lah yang bisa membangkitkan semangat
perlawanan rakyat terhadap rezim tiran. Mahasiswa-lah yang bisa mengawal
reformasi hingga ke titik tujuan. Rakyat menaruh harapan atas kekuatan
intelektual dan kekuatan aksi yang mahasiswa miliki.Jadi, pahami dirimu dan
sekitarmu, dan mari kita bergerak lagi ! Reformasi belum usai !”
Dengan
kekuatan intelektual di atas rata-rata masyarakat awam, mahasiswa memiliki kemudahan
untuk mengakses berbagai informasi wacana dan peristiwa dalam lingkup lokal
hingga internasional. Begitu juga dengan kemudahan akses literatur ilmiah dan
gerakan-gerakan pemikiran, yang pada tujuan akhirnya akan menentukan ideologi
atau sistem hidup yang akan dijalaninya. Buku yang ia baca, informasi yang ia
terima, tokoh-tokoh yang ia ajak bicara, adalah beberapa faktor utama yang
kelak sangat berpengaruh terhadap idealisme hidupnya.Selain kekuatan
intelektual yang identik dengan aktivitas ilmiah, mahasiswa juga memiliki
kewajiban untuk menguatkan potensi kepekaan sosial politiknya.
Disebut kepekaan sosial karena
mahasiswa pada dasarnya adalah bagian dari rakyat. Apapun yang terjadi pada
rakyat maka mahasiswa akan turut juga merasakannya. Kenaikan BBM, harga bahan
pokok, listrik, dan air misalnya akan memberi ekses terhadap aktivitas kuliah.
Disebut kepekaan politik, karena gejolak sosial yang terjadi umumnya selalu
merupakan hasil side effect dari aktivitas politik, semisal disahkannya suatu
UU. UU Ketenagakerjaan misalnya akan mempengaruhi kesejahteraan dan taraf hidup
para buruh.Setelah cerdas secara profesi keilmuan dan cerdas sosial politik,
maka sebagai gerakan ekstra parlementer mahasiswa memiliki kewajiban moral
untuk mengimplementasikan pengetahuannya itu dalam bentuk pengabdian kepada
masyarakat. Atau dengan kata lain menyuarakan kepentingan kebenaran dan rakyat.
Berbagai
metode dapat dilakukan. Dari bentuk pendampingan, advokasi, public hearing,
audiensi dengan pemerintah dan legislatif, hingga demonstrasi (aksi).
Demonstrasi adalah cara paling efektif dalam menyuarakan kebenaran, khususnya
jika dilaksanakan pada rezim yang antidemokratis dan tiran. Dalam makalah ini,
akan dibahas sekelumit tentang manjamen demonstrasi atau aksi, yang selanjutnya
akan disebut dengan MoA (Management of Action). Pengetahuan akan MoA ini
menjadi penting agar niatan yang benar itu dapat mencapai hasil optimal karena
dilakukan dengan cara yang benar pula.
II.
MANAJEMEN AKSI
Pengertian Aksi (demontrasi) adalah
suatu model pernyataan sikap, penyuaraan pendapat, opini, atau tuntutan yang
dilakukan dengan jumlah massa terntentu dan dengan teknik tertentu agar
mendapat perhatian dari pihak yang dituju tanpa menggunakan mekanisme
konvensional (birokrasi). Demonstrasi juga bertujuan untuk menekan pembuat
keputusan untuk melakukan sesuatu.
Latar Belakang dan Tujuan Aksi umumnya
dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode
dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota
legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak
dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’
dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau
mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat
menjadi snowball. Dari isu mahasiswa menjadi isu masyarakat kebanyakan, seperti
dalam kasus aksi menuntut mundur Soeharto.
Landasan
Hukum Aksi adalah hak bahkan dalam situasi tertentu dapat menjadi kewajiban. Ia
dilindungi oleh UU positif. Selain Declaration of Human Right (freedom of
speech), hak aksi juga dilindungi oleh UUD 1945 pasal 28 beserta amandemennya.
Secara lebih spesifik, aksi ini kemudian diatur dengan adanya UU No. 9/1998
tentang Mekanisme Penyampaian Pendapat di Muka Umum. UU ini mengharuskan
panitia aksi harus memberikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian setidaknya
3 hari menjelang hari H. Ketentuan lainnya adalah, didalam surat pemberitahuan
itu harus ada nama penanggung jawab aksi, waktu pelaksanaan, rute yangh
dilewati, isu yang dibawa, jumlah massa, dan bentuk aksi. Selain itu ada juga
larangan untuk melakukan aksi pada hari-hari tertntu dan tempat-tempat tertentu.
Dalam pandangan aktivis, UU ini pada awal pengesahannya dicurigai sebagai alat
untuk mengibiri suara kritis mahasiswa dan rakyat. Dan pada perkembangannya, UU
inilah yang digunakan oleh rezim berkuasa via aparat kepolisian untuk mematikan
suara oposan, dengan banyak menyeret para aktivis ke penjara.
Kode
EtikUntuk menjaga konsistensi gerakan, beberapa elemen gerakan mahasiswa
memiliki kode etik aksi. Kode etik ini pula yang menjadi faktor pembeda aksi
yang satu dengan aksi yang lainnya. Di KAMMI misalnya, kode etiknya adalah
memulai dan menutup aksi dengan doa, tidak membaurkan peserta aksi putra dengan
putri, dan tidak mencemooh seseorang dari cacat fisiknya. Faktor pembeda
lainnya adalah lirik lagu-lagu perjuangan dan kata-kata pekik teriakan.
III.
MEKANISME LAHIRNYA KEPUTUSAN AKSIK
Keputusan
aksi sebaiknya didiskusikan secara matang analisis SWOT-nya. Organisasi intra
kampus mempunyai mekanisme yang berbeda namun hampir sama dengan mahasiswa
ekstra. Di ekstra jalur pengambilan keputusan lebih pendek sehingga keputusan
aksi dapat lebih cepat dieksekusi. Secara garis besar mekanisme lahirnya
keputusan aksi adalah sbb :
1.
Diskusi awal (Tim/Dept. Khusus :
bidang Sospol), dteruskan ke :
2.
Diskusi Lanjutan (pelibatan kader,
(unsur UKM), menghadirkan pakar, penerbitan Pers Release), lalu
3.
Pembentukan Tim Teknis Aksi
4.
Aksi di lapangan
IV.
MERANCANG AKSI
Dalam
merancang aksi, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah : planning aksi,
perangkat aksi, pelaksanaan, dan kegiatan paska-aksi.
Planning AksiDalam tahap perencanaan aksi, hal urgen yang perlu diperhatikan
adalah :
- Tema / Grand Issue.
Pilihlah tema atau isu yang sedang hangat menjadi bahan
pembicaraan (up to date) atau relevan atau sesuai dengan kebutuhan organisasi
yang bersangkutan. Kemudian fokuskan, agar informasi atau opini yang hendak
dibangun tidak bias.
- Target
Susun target. Baik target teknis seperti pencapaian jumlah
massa dan blow up media, dan target esensi seperti isu tuntutan aksi. Begitu
juga target siapa yang pihak yang hendak dituju.
- Skenario.
Seperti halnya film, aksi butuh skenario, yang menjadi acuan
bergeraknya aksi. Skenario ini mencakup rute, tokoh orator, happening art, dan
acara lainnya. Sebaiknya skenario disiapkan lebih dari satu. Jika ada sesuatu
hal di lapangan tak memungkinkan berjalannya sebuah skenario, dapat diganti
dengan skenario lain (plan B). Dalam aksi yang mengandalkan massa, strategi
penggalangan massa menjadi penting, demikian juga dengan cara mengendalikan
massa jika massa berjumlah besar.
- Pemberitahuan
Pemberitahuan tergantung pada kebutuhan. Jika kita
memutuskan untuk menulis pemberitahuan, maka lakukan sesuai dengan UU No.
9/1998. Begitu juga dengan pemberitahuan kepada media massa (release awal) agar
kelak mereka dapat meliput kita.
media interest Aksi yang ‘menarik’ akan disukai oleh media. Karena itu perlu
diperhatikan sebuah momen yang khusus didesain untuk konsumsi jurnalis foto,
selain press release untuk jurnalis berita.
- Format
Format atau bentuk aksi adalah pilihan dari banyak bentuk
aksi. Pilihannya ada dua, format kekerasan atau nirkekerasan. Sebagai ‘penjaga
gawang’ gerakan moral, maka seyogyanya aksi mahasiswa bersifat nirkekerasan.
Aksi nirkekerasan ini sangat bervariatif sekali. Dimulai dari aksi diam (bisu),
orasi, happening art, aksi topeng, mogok makan, hingga ke blokade, pengepungan,
dan boikot.
V.
PERANGKAT AKSI
Perangkat Aksi Perangkat aksi adalah person-person yang
terlibat dalam suksesnya sebuah aksi. Mereka diantaranya adalah :
- Korlap
Koordinator Lapangan adalah pemegang komando ketika aksi
sedang berjalan. Peserta aksi harus mentaati setiap arahan dari korlap. Korlap
memperoleh masukan informasi dari perangkat lain yang akan digunakannya untuk
mengambil keputusan-keputusan penting. Korlap juga yang bertugas menjaga
stamina massa agar tidak loyo dan tetap konsentrasi ke aksi. Korlap bukanlah
amanah instant. Ia diperoleh dari proses jangka panjang. Korlap adalah orang
paling mengerti tentang isu yang sedang diperjuangkan, sehingga wawasan
pengetahuannya dapat dikatakan lebih banyak dari yang lainnya. Korlap dapat
juga berorasi.
- Orator
Terkadang diperlukan orator khusus selain korlap, khususnya
pada aksi aliansi atau aksi yang melibatkan tokoh. Para orator ini menyampaikan
orasi berdasarkan isu yang telah disepakati bersama. Bobot suatu orasi
ditentukan oleh susunan kalimat, data up to date, dan kualitas pernyataan
sikap. - AgitatorAgitator adalah pembangkit semangat massa dengan pekik
teriakan disela-sela orasi korlap dan orator. Ia juga membantu korlap untuk
menjaga stamina massa dengan memimpin lagu dan yel-yel.
- Negosiator
Negoisator Terkadang diperlukan person yang khusus bertugas
untuk melakukan negosiasi. Negosiasi ini dilakukan kepada aparat polisi atau
pihak-pihak yang ingin dituju jika aksi di-setting audiensi.
- Humas
Tim Humas adalah salah satu elemen penting aksi. Tim humas
bertanggung jawab dalam menjembatani aksi kepada para jurnalis. Mereka membuat
pers release. Bobot Pers Release itu dibuat berdasarkan nilai-nilai
jurnalistik. Disebut sukses jika media bisa memuat tuntutan atau opini yang
hendak digulirkan oleh aksi.
- Security/border
Tim ini bertugas menjaga keamanan peserta aksi. Mereka juga
wajib untuk mengidentifikasi para penyusup atau aparat yang hendak memprovokasi
agar aksi berakhir chaos. Tim ini memiliki bahasa tersendiri yang hanya
diketahui oleh sedikit orang dari peserta aksi.
- Dokumenter
Tim ini memback-up tim humas. Tetapi inti tugasnya adalah
mendokumentasi aksi dari awal hingga akhir serta membuat kronologis aksi.
Dokumentasi ini dengan kamera, handycam ataupun notes. Data ini akan digunakan
sebagai bukti otentik jika aksi mengalami kekerasan dari aparat atau massa
lain.
- Medik
Tugas ini memang spesifik bagi mereka yang menguasai ilmu
medis. Umumnya adalah mahasiswa kedokteran atau mereka yang pernah terlibat
dalam aktivitas kepalangmerahan atau bulan sabit merah. Tim ini memberikan
pertolongan pertama kepada peserta aski yang mengalami cidera.- LogistikDalam
aksi yang disetting lama dan melelahkan. Tim logistik bertugas untuk
menyediakan sarana untuk membugarkan peserta aksi seperti air minum, snack dan
sound system. Terkadang, mereka juga membuat dan mendesain kertas tuntutan atau
karikatur.
- Tim kreatif
Tim ini memiliki kewenangan untuk mendesain sebuah atraksi
seni atau instalasi sesuai amanat hasil musyawarah. Pelaksanaan dan Pasca Aksi
Saat massa telah terkumpul di tempat yang telah ditentukan, maka korlap
sebaiknya tidak langsung memberangkatkan peserta aksi sebelum ada taujih
(nasehat) dan doa. Selain itu perlu juga adanya pemanasan (warming up) dengan
cara melatih yel-yel atau orasi untuk pencerdasan peserta aksi. Warming-up ini
bertujuan untuk mensolidasi peserta aksi. Setelah kompak, solid, dan cerdas
barulah aksi dimulai.Saat aksi, peserta wajib menghormati komnado korlap dan
turut menjaga keamanan aksi hingga aksi usai. Jika aksi disetting serius atau
aksi bisu maka peserta harus menjauhkan dari kegiatan senda gurau dan
ketidakseriusan. Seusai aksi, maka peserta menutupnya dengan doa. Evaluasi juga
dilakukan untuk meningkatkan kualitas aksi berikutnya. Tim humas juga memonitoring
media untuk memantau keberhasilan blow-up media dan tingkat ke-bias-an
tuntutan.
VI.
TIPS DAN TRIKS
- Angle foto
Foto dapat berbicara lebih banyak dari kata-kata. Maka
desain aksi yang menyediakan angle foto yang baik akan membuat aksi lebih mudah
ter-blow up. Misalnya: aksi LSM Pro Fauna yang membuat balon kura-kura raksasa
dalam menentang eksploitasi kura-kura sebagai komoditas.
- Kalimat poster
Kalimat poster biasanya juga menjadi incaran fotografer.
Pilihlah kalimat yang cerdas namun tetap mencerminkan akhlak seorang mahasiswa.
Unik dan kreatif adalah kuncinya. Misal : IMF = International Monster Fund.
- Uniform
Keseragaman pakaian peserta aksi juga dapat menarik
perhatian. Pakaian putih-putih, hitam-hitam atau mengenakan pakaian seperti
orang utan untuk aksi mendukung keberlangsungan orang utan.
- Propaganda
Propaganda dibuat untuk mencerdaskan masyarakat di sekitar
aksi agar mereka mendukung aksi. Jika aksi dipusat keramaian, maka selebaran
propaganda dapat menjadi bacaan yang mengusik perhatian.
- Pers release
Selain data 5W+1H, pers release juga disusun dengan kalimat
baik dan sudah sesuai dengan bahasa koran, sehingga redaktur tidak banyak
mengedit. Adanya tambahan data dan angka dapat menambah bobot release.
- Yel/lagu
Ciptakanlah yel-yel yang khas dan mudah diingat. Lagu bisa
diperoleh dengan mengubah lirik dari lagu yang populis. Yel dan Lagu akan
memelihara stamina massa.
- Symbolized
Simbolisasi perlu dilakukan untuk mencuri perhatian media
jika massa aksi tidak terlalu banyak. Misalnya : aksi membawa tikus ke kantor
DPRD untuk menyindir anggota dewan yang tak ubahnya seperti tikus-tikus
pengerat.
- Aliansi
Aliansi taktis Untuk memperkuat posisi tawar, aliansi kadang
diperlukan. Aliansi didasarkan pada pertimbangan kesamaan ideologi, atau
kesamaan isu , atau kesamaan metode. Jika aliansi ini adalah dari universitas,
maka bendera masing-masing universitas wajib untuk ditonjolkan.
- Menghadapi wartawan.
Jika jurnalis TV mewawancarai peserta aksi, sebaiknya
peserta tersebut mengarahkannya kepada tim humas atau korlapnya agar jurnalis
itu dpat mewawancarai person yang lebih valid dalam memberikan keterangan.
Ketika di wawancara, demonstran yang efektif merancang pesannya supaya bisa
disampaikan secara utuh dalam tempo 10 hingga 15 detik. Setelah pesan disampaikan
secara singkat, padat, dan utuh - baru kemudian dilakukan elaborasi. Ini
menjaga agar pesan utama secara utuh tetap bisa tersiar walaupun mungkin
elaborasinya terpotong. Hal ini disebabkan karena spot berita TV sangat
singkat, berbeda dengan media cetak yang dapat memuat banyak.
Berhadapan dengan wartawan, jauhilah sikap arogan,
tampakkanlah sikap ramah dan bersahabat. Sikap arogan membuat wartawan menjaga
jarak, bahkan pada titik puncaknya wadah asosiasi mereka akan memboikot setiap
kegiatan aksi kita.
Beberapa pertanyaan dari wartawan
yang bisa diantisipasi oleh setiap peserta aksi adalah:- Mengapa anda berada
disini?
- Apa yang ingin anda capai?
- Apakah demonstrasi ini
sungguh-sungguh merupakan solusi?
- Apa yang bisa dilakukan oleh
khalayak untuk masalah yang anda perjuangkan?
So, Selamat Berjuang ! Sampai Jumpa
di jalanan !
